main-main ke siloam

semenjak saya pindah ke Jakarta, dan mengurus diri saya sendiri.
saya mulai belajar menganalisis diri saya, apa yang boleh, apa yang tidak boleh, apa yang bikin sakit, kapan waktu-waktu sakit, dan sebagainya.
saya menggolongkan diri saya termasuk orang yang jarang sakit, tapi sekalinya sakit ya udah teler dan lemesnya Subhallah ;D

beberapa hari lalu, tulang belakang saya (dari pundak sampai tulang belakang) sakitnya bukan main.
saya sampai merasa sangat tidak nyaman buat tidur, karena saya rasa tulang saya mengeluarkan panas sampai ke kepala saya.
saya pikir awalnya karena saya mau period, tapi setelah saya ingat-ingat jadwalnya belum,
saya coba menerka apa yang membuat saya sampai se-kelelahan ini, sedangkan saat itu posisi saya saat office hours sedang training, jadi rasanya bukan deh kalo karena kerjaan yang berjibun,

sejak setahun belakangan, saya baru tahu kalo saya skoliosis (dari periksa rontgen tidak sengaja),dan itu juga membuat saya takut tentang nyeri ini.
akhirnya hari jumat sepulang training (29/05), saya pergi ke sebuah rumah sakit di semanggi, Siloam Hospitals.
kenapa saya kesini? karena dekat dari kos ;p

saya dapet antrian ketiga, di waktu setelah jumatan itu,
begitu saya masuk ke ruang dokter, saya diminta berbaring tengkurap, dan dokter mulai memeriksa “tegang” di tulang belakang saya.
nggak berapa lama, saya diminta berdiri membelakangi dokter,
dan seketika dokter bilang “disuntik aja ya, kamu skoliosis, otot kamu tegang” // “siapin suntiknya suster”
langsung saya memotong, nggak dokter, saya nggak mau disuntik, karena saya akan dinas ke luar kota beberapa hari,
di sela-sela denial saya terhadap tawaran suntiknya, dokter menjelaskan beberapa hal yang intinya sih membujuk saya buat mau disuntik,
tapi tetap saya menolak,
sejujurnya, saya takut disuntik, tapi diluar itu, saya merasa ini dokter aneh, langsung serobot aja main suntik padahal periksanya dia cuma gitu doang,
finally, dia merekomendasikan saya beberapa obat untuk melemaskan otot saya, dan vitamin otot, dan beberapa hal lain, yang akhirnya diluar saat akan billing saya tolak,
satu yang saya ambil dari dia, surat untuk rontgen, hanya itu.
sejujurnya, saya kecewa dengan dokter ini, kayanya main tindakan cepet banget, udah gitu nggak banyak tanya soal riwayat skoliosis saya,
ini pertama kali saya periksa ke rumah sakit, dan saya hampir saja kecewa dengan dokternya.

setelah melihat hasil rontgen yang sangat berbeda di tahun lalu (tahun lalu saya sempat khusus pulang jogja untuk rontgen ditemani mama dan derajatnya nggak sebesar ini), saya sempat panik,
takut gitu bakal kejadian apa.
4 hari berikutnya, karena saya dinas saya nggak sempat mikir, baru kepikiran lagi setelah kembali kesini,
akhirnya sepulang saya ke jakarta, saya reviu beberapa dokter skoliosis tulang belakang, dan pilihan sejujurnya jatuh ke seorang dokter di RSPP yang prakteknya hanya hari sabtu,
sayangnya, di hari sabtu sewaktu saya telepon, dokter tersebut berhalangan hadir, dan baru praktek lagi di sabtu depan. sedih!
google lagi, untuk menemukan dokter yang dengan keahlian sama, tapi punya prakter di hari sabtu, plus terjangkau,
lagi-dan-lagi, saya harus ke Siloam Hospital, fyuh.
sejujurnya saya sempat malas, dan karena kecewa dengan pelayanan dokternya minggu lalu,
tapi karena ada yang membuat saya percaya dari nama dokter tersebut, akhirnya di Sabtu itu saya periksa ke Dr. Yudistira Siregar, SpOT (Orthopedic Surgeon – Spine Con),
begitu tiba di ruang antrian, antrian dokter ini penuh sekali, bahkan sebelum jam praktik dimulai mereka sudah datang.
pasien pertama masuk, dan keluar dengan dibukakan pintu sambil dokternya cekakaan. pikir saya, oh mungkin mereka teman lama.
pasien kedua masuk, dan dari luar terdengar suara tawa yang sahut sahut-an, pikir saya oh mungkin dokter ini suka tertawa,
pasien ketiga masuk, yang kebetulan bule, beliau menggoda pasien tersebut karena pasien tersebut bersama pacar barunya, oh oke mungkin dokter ini dekat dengan pasiennya.
dan selalu setiap ada pasien masuk dan keluar dengan berbinar, saya jadi penasaran sebenarnya dokter ini ngapain sih…
finally giliran saya, dari sambutannya dokter ini memang ramah, dan sebelum saya diperiksa, dia minta saya ceritakan riwayat sakitnya, kenapa periksa,
ketika saya memperlihatkan hasil rontgen-pun wajahnya biasa saja, nggak sok panik atau gimana gitu,
setelah diperiksa dengan treatmen yang sama (tidur tengkurap dan berdiri membelakangi) dokter itu kasih saya beberapa obat.
saya tanya kan, dok kalo sekarang saya disuntik, saya nggakpapa deh.
dokter yudis malah heran, nagapain disuntik, emang kenapa harus disuntik, OMG!
dengan polosnya saya ceritakan saja kejadiannya jumat lalu, dan karena kebetulan suster yang bertugas sama, dia hanya tertawa saja.
hahahaha itu dokter kamu bikin pasien takut katanya.
dokter yudis merasa kurang ahli dengan sakit tulang belakang termasuk skoliosis saya, sehingga beliau merekomendasikan saya kepada dr. S Dohar AL Tobing, Sp.OT K-Spine.
Dokter yudis tidak lupa memberi tahu saya jadwal praktik dokter dohar, di rumah sakit apa aja (oke kan), dan lain lain termasuk pesan… kalo obatnya nggak mau ditebus nggak papa. Mungkin tunggu dokter dohar. Ini supaya sampe ketemu beliau kamu merasa nyaman saja.
How sweet!

Finally i buy that medicine, karena setiap obat saya tanyakan manfaat dan beliau menjawab dengan jelasnya detailnya.
Hari rabu, sesuai surat rekomendasi dari dokter yudis saya temuin dokter dohar di rumah sakit siloam semanggi (karena terpesona dengan oke-nya dokter yudis, semua buruknya terlupa dan aksesnya).

Dokter dohar nggak kalah baiknya dan okenya dengan dokter yudis. Bedanya beliau kalem dan sepuh.
Seperti di awal ketemu dokter yudis, dokter dohar menanyalan keluhan saya sembari baca surat rekomendasi dokter yudis dan merangkai hasil rontgen saya.
Kemudian dokter dohar tanya pekerjaan saya (yang kemudian bikin saya tahu kalau beliau sedang menganalisis itu dengan kemungkinan skoliosis dan sakit saya), dan yah seperti biasa saya diperiksa dengan tengkurap juga berdiri membelakangi dokter.
Setelahnya saya mulai beberapa pertanyaan yang selama ini berputar-putar di kelapa saya,
1. Apa benar kalau orang skoliosis tidak boleh lari dan bersepeda?
2. Apa dengam derajat sedemikian saya masih bisa beraktivitas dengan normal?
3. Apa saya memerlukan beberapa treatment exercise yang mungkin diberikan di beberapa rumah sakit?
4. Apakah perlu saya pakai korset tiap hari sekalian jaga perut supaya nggak buncit dok?

Dokter dohar menjawab dengan sangat simple dan sangat menjawab.
1. Sejujurnya tidak ada larangan apapun orang skoliosis untuk berolahraga. Terutama di usia (di atas 20) yang sudah tidak mungkin lagi tumbuh tulangnya. Hanya saja ada olahraga yang baik bagi si skoliosis seperti renang atau yoga mungkin. Karena olahraga tersebut bikin tulang si skoliosis ini lebih rileks. Karena skoliosis membuat otot yang melekat pada tulang yang tidak simetris menjadi berat sebelah kerjanya.
2. Pertanyaan kedua dijawab dokter dengan pertanyaan kembali ke saya. Hehe.
Selama ini kamu merasa ada aktivitas yang orang lain bisa kamu tidak nggak? Dan jawaban saya tidak. So that’s the answer. Jadi saya bisa ko kalo mau guling guling sampe senayan atau koprol sampe kantor, kalo mau… hahahaha.
3. Saya sempat tanya nih siapa tau ada exercise atau terapi khusus yang ditawarkan rumah sakit tuh. Dan jawabannya malah nggak perlu tuh saya mau tretment apapun. Kalopun saya mau exercise yang tujuannya bikin otot saya nggak tegang jadi nggak bikin tulang tulang saya sakit, yang paling bisa melakukan itu adalah ibu saya atau keluarga saya.
Kenapa? Karena exercise yang dibutuhkan seperti massage pada bagian yang sering sakit akan lebih dihafal sama ibu atau keluarga saya dan massage atau terapi yang dilakulan juga jadi nggak akan menyakiti.
4. Sejujurnya kalau saya terus terusan pakai korset, maka otot saya jadi manja dan lemah. Takutnya suatu saat dia nggak bisa nih jadi melakukan fungsinya sebagai penyangga. Karena terbiasa dibantu sama korset. Cuma sekali kali bolehlah. Lagian kamu nggak gendut gitu. Hahahaha.

Akhirnya, saya dapat jawabannya. Lega.
Oiya saya nggak lupa menanyakan apakah obat dari dokter yudis perlu diteruskan. Dokter dohar bilang obat tersebut boleh diteruskan jika memang sakit sekali. Tapi tidak boleh jadi ketergantungan. Karena akan membuat otot saya jadi tidak berfungsi dengan baik.

#sharingiscaring 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *