#onemonthonetrip Bromo

00.00
kami tepat dijemput di rumah salah seorang teman kami di rumah perbatasan Surabaya-Gresik oleh driver tour paket kami, yang bernama Pak Eko.
(serius rumahnya di perbatasan, karena ada tulisan Surabaya-nya :D)
layaknya cinderella yang takut sepatu kacanya akan berubah dalam se-menit kami yang setengah hidup (karena sengaja tidur sebelum nge-Bromo menyegerakan berangkat. Dan perjalanan-pun dimulai yang kami mulai dengan tidur berjamaah di mobil, menunggu dibangunkan sesampainya di Bromo.

03.40
Kami sampai di Bromo, tepatnya masih di bawah sih, di tempat orang-orang mampir ke toilet setelah perjalanan. Konon, disini mulai akan ditawarkan berbagai barang kebutuhan menahan dingin, karena disini mulai berasa suhu Bromo yang jauh dingin dibandingkan di bumi Surabaya-Gresik.
Pesan saya, karena setiap mobil yang berhenti akan didatangi oleh para penjual, jangan beli disini. Belinya langsung aja yang didepan toilet. Lebih murah sis! Apalagi kalo borongan~

04.45
Kami sampai di bawah penanjakan pertama, tepatnya penanjakn sunrise view. Naik ke puncak dengan gemetar kedinginan, berharap ada yang jualan teh anget atau pop-mie ke atas, tapi yang ada hanyalah rental tikar dan jaket 😀
Sembari ngantuk mengantuk dan ketawa haha hehe dan nge-camen supaya agak angetan dan cari keringet, tepatlah sunrise datang dengan malu-malu.
Iya, pagi ini sunrise datangnya malu-malu karena langit mendung mungkin ya. Intinya kami nggak seberapa bebas melihat matahari nongol, hanya ada semburat orange ke pinki-an pertanda matahari sudah ada. so saaaaad T.T
tapi selayaknya pengalaman di Batur, melihat alam membantu matahari menampakkan wujudnya selalu jadi momen syukur saya yang teramat dalam karena diberi mata yang bisa melihat keagungan yang zsuper indahnya.
Fabiayyi Alairabbikuma Tukaddiban~

kesedihan lainnya dalam momen ini, semburat pinki ini tidak dapat muncul sempurna dalam kamera saya. ini membuat saya punya teori baru tentang keindahan.
sesuatu yang indah-nya berlebihan kadang memang tidak dapat ter-capture sempurna dalam mata buatan (kamera).

setelahnya kami turun dan memulai tur kami ke bukit teletubbies, pasir berbisik, dan kawah Bromo dengan naik kuda.
pengalaman ter-berharga lainnya di momen ini, saya naik kuda sendiriii hahaha. si Bapak yang mirip cok simbara ini kayanya melihat keinginan saya yang besar dan melupakan ketakutan saya yang nggak kalah besar. selama menuju puncak kawah tersebut, si Bonono (kuda yang saya kasih nama di tkp) sangat gampang diatur dan menyenangkan diajak berpetualang hahaha.


dan lagi, keindahan dalam 3 tempat ini di kamera tidak bisa secantik apa yang saya lihat pada nyatanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *