rabu baper di awal 2017

Semua orang pasti ingin menikah, se-buruk apapun trauma dia tentang pernikahan”

“Semua orang pasti mau berpasangan, se-jelek apapun bayangan pasangan di usia senja”
Sore ini begitu bapernya buat saya, lagi-lagi karena pernikahan dan pasangan.
Usia saya yang nggak lagi muda (25 sudah lewat saya anggap nggak muda); orang tua yang semakin menua (meskipun tidak pernah menuntut saya ini itu); dan omongan orang terbukti jadi faktor ampuh yang bikin saya pengen nangis sejadi-jadinya sore ini.
Seorang sok meramal pernikahan saya sore tadi. Sedangkan yang ia tau hanya seorang aicha dalam momen itu, tanpa tahu apa yang saya rasakan, saya mau, atau bahkan pernah saya lewati.
Sejujurnya orang-orang sotoy dan bermulut pedas sudah saya hindari sejak kepindahan saya ke Jakarta. Maklum di kota orang ini saya tidak lagi bisa menyelesaikan semua masalah dan galau saya dengan pelukan mama, jadi saya putuskan menjauhi sumber masalah. 

Dari bertemu dengan berbagai orang yang berbeda ini, saya jadi cukup bisa membedakan mana yang kepo untuk disebarluskan dan mana yang perhatian dengan maksud mendoakan. Terima kasih untuk pelajarannya mengenai karakter manusia bagi semua kepo-era dan perhatian-ers.
Sejujurnya, pernikahan bukan hal yang rumit saya deskripsikan tapi bukan juga sesuatu yang mudah untuk saya bayangkan.
Menikah adalah soal komitmen, kasih sayang, membangun mimpi dan merealisasikannya berdua.
Menikah bukan hanya soal dua orang tapi dua keluarga.
Menikah tidak sekedar sekarang suka besok nggak, tapi jatuh cinta berulang kali pada hal yang sama pada orang yang sama tanpa pernah ada rasa bosan maupun ingin bosan.
Menikah bukan hanya melegalkan dan menambah pahala untuk berpegangan tangan ataupun memandang, tapi menyempurnakan setengah agama untuk mendapat berkah-Nya yang lebih baik lagi.

Menikah tidak semudah menyiapkan akad dan pesta, tapi melalui jalan panjang setelahnya berdua. Baik jalan lurus, terjal, berliku.
Saya memang sangat belum ahli dalam mendefinisikan hal tersebut, tapi menurut saya, sebagai perempuan kita punya hak mempunyai mimpi seperti apa pernikahan kita akan dibangun dan dengan lelaki seperti apa pernikahan akan dibangun. Karena harapannya jodoh saya adalah jodoh dunia dan akhirat. 
Terima kasih untuk tim nyinyir yang membuat saya selalu merasa terintimidasi dan menulis blog. Mohon doanya semoga segera dipertemukan dengan jodoh terbaik dari-Nya yang membawa kebaikan dunia akhirat untuk saya dan keluarga. 
Ps: makasih tuyul dian yang membalas whatsapp ditengah sore sibuknya hanya untuk bilang “kalo yang mulutnya kaya dia kamu bisa dapet sepuluh” that’s totally make me laugh. Superlove!
#inspiratif2017 #baperisnewinspiratipn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *